Mata Kuliah Yang Kamu Sukai?

Selasa, 03 Januari 2012

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH: ASKEP HEMODIALISA


ASUHAN KEPERAWATAN
HEMODIALISA (HD)

1. Defenisi Hemodialisa
Hemodialisa berasal dari kata hemo=darah, dan dialisi=pemisahan atau filtrasi. Hemodialisa adalah suatu metode terapi dialisis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Terapi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi membran penyaring semipermeabel (ginjal buatan). Hemodialisa dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Tujuan dari hemodialisa adalah untuk memindahkan produk-produk limbah yang terakumulasi dalam sirkulasi klien dan dikeluarkan kedalam mesin dialisis. (Muttaqin & Sari, 2011).

2. Prinsip-prinsip Hemodialisa
Ada tiga prinsip yang mendasari kerja dari hemodialisa yaitu difusi, osmosis dan ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan melaui proses difusi dengan cara bergerak dari darah, yang memiliki konsentrasi tinggi, kecairan dialisat dengan konsentrasi yang lebih rendah (Smeltzer & Bare, 2002).
Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradient tekanan, Gradien ini dapat ditingkatkan melalui penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mesin dialisis. Karena pasien tidak dapat mengekskresikan air, kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga tercapai isovolemia (keseimbangan cairan) (Smeltzer & Bare, 2002).
Sistem dapar (buffer sisite) tubuh dipertahankan dengan penambahan asetat yang akan berdifusi dari cairan dialisat ke dalam darah pasien dan mengalami metabolisme untuk membentuk bikarbonat. Darah yang sudah dibersihkan kemudian dikembalikan ke dalam tubuh melalui pembuluh darah vena (Smeltzer & Bare, 2002).

3. Penatalaksanaan Hemodialisa pada Pasien
Pada klien GGK, tindakan hemodialisa dapat menurunkan risiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi, tetapi tindakan hemodialisa tidak menyembuhkan atau mengembalikan fungsi ginjal secara permanen. Klien GGK biasanya harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya atau sampai mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal (Muttaqin & Sari, 2011).
Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisa mengingat adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengekskresikan produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun dan toksin. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara kolektif dikenal sebagai gejala uremia dan akan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala (Smeltzer & Bare, 2002).
Penumpukan cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru. Dengan demikian pembatasan cairan juga merupakan bagian dari resep diet untuk pasien. Dengan penggunaan hemodialisis yang efektif, asupan makanan pasien dapat diperbaiki meskipun biasanya memerlukan beberapa penyesuaian dan pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan (Smeltzer & Bare, 2002).
Banyak obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung, antibiotik, antiaritmia dan anti hipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik (Smeltzer & Bare, 2002).

4. Indikasi dan Komplikasi Terapi Hemodialisa
Pada umumya indikasi dari terapi hemodialisa pada gagal ginjal kronis adalah laju filtrasi glomerulus ( LFG ) sudah kurang dari 5 mL/menit, sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai bila dijumpai salah satu dari hal tersebut dibawah :
2.4.1. Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata
2.4.2. K serum > 6 mEq/L
2.4.3. Ureum darah > 200 mg/Dl
2.4.4. pH darah < 7,1
2.4.5. Anuria berkepanjangan ( > 5 hari )
2.4.6. Fluid overloaded  

5. Proses Keperawatan
5.1. Pengkajian
Pengkajian Pre hemodialisa
Adapun pengkajian klien Pre Hemodialisa menurut Hidayat (2010) yaitu:
1)    Riwayat penyakit, tahap penyakit
2)    Usia
3)    Keseimbangan cairan, elektrolit
4)    Nilai laboratorium: Hb, ureum, creatinin, PH
5)    Keluhan subyektif: sesak nafas, pusing, palpitasi
6)    Respon terhadap dialysis sebelumnya.
7)    Status emosional
8)    Pemeriksaan fisik: BB, suara nafas, edema, TTV, JVP
9)    Sirkuit pembuluh darah.
Pengkajian Post HD
1)    Tekanan darah: hipotensi
2)    Keluhan: pusing, palpitasi
3)    Komplikasi HD: kejang, mual, muntah, dsb
5.2. Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien yang menjalani hemodialisa
Pre Hemodialisa;
1)      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang familier dengan sumber informasi.
2)      Cemas b.d krisis situasional
Intra Hemodialisa;
1)      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelemahan proses pengaturan.
2)      Ketidakberdayaan berhubungan dengan perasaan kurang kontrol, ketergantungan pada dialysis, sifat kronis penyakit
3)      Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasiv.
Post Hemodialisa;
1)      Resiko cedera berhubungan dengan akses vaskuler dan komplikasi sekunder terhadap penusukan.
2)      Kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan dirumah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar